Mbak Indri datang dalam mimpiku

•September 3, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kau datang. Ulangi semua yang kita lakukan. Saat itu aku masih muda sekali. Satu-satunya lelaki di indekosan itu. Aku lelaki di sebelah kamarmu. Kamar kita berdampingan, dengan dua pintu di samping yang berhadapan. Di antara dua kamar kita adalah kamar mandi.

24 usiaku saat itu. 34 usiamu saat itu. Kau masih perawan. Perawan tua. Aku yang kau minta merenggutnya. Atau aku yang memang menggodamu. Dini hari dalam hujan saat lampu padam kau berikan apa yang kau simpan sekian lama. Kuajarkan padamu bagaimana wanita dewasa berhak menikmati perkelaminan.

Aku yang muda lebih berpengalaman darimu. Dengan lembut bertahap akhirnya kau petik bukti kedewasaan perempuan, rasakan penis mengantarmu ke awang-awang dan tembus ke lapis langit ketujuh. Ketika petir datang kau sampai pada orgasme terakhirmu, bersamaan dengan muncratnya lahar panasku.

Seterusnya adalah hubungan diam-diam, persetubuhan gelap yang kadang lembut manja tapi lain waktu jalang liar. Tak semuanya di indekosan. Kadang di mobilmu. Kadang di mobilku. Kadang di motel.

Tadi malam aku mimpi anal denganmu. Aku banjir. Basah. Lengket. Bau ketiak berbulumu mengisi ruang tidurku. Pagi tadi aku masturbasi mengenangmu.

Duda muda & janda muda

•September 1, 2007 • 1 Komentar

Kita masih bisa mempercandakan status sebagai dua manusia yang pernah jadi suami-istri.

“Kamu sebagai duda muda semakin merajalela, dong…”

“Uh. Kok gitu sih?”

“Lha iyalah. Score kita sama. Aku kan janda muda. Jandamu… Bedanya aku bukan janda gatal…”

Kita terbahak bersama. Matamu sampai tinggal segaris. Tampak cantik. Tetap cantik.

Setelah tawa reda kutumpangkan tanganku ke atas pergelanganmu selayak kakak kepada adik tersayang.